Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Bagai oase ditengah sahara

Kutemukan sudah, jalanku menapaki kehidupan dunia ini. Hati sadar diri, jika sudah berkepala dua, bertanda aku ini sudah mulai dewasa. Namun dengan begitu kusadari bahwa kedewasaanku adalah hasil dari beragam peristiwa kehidupan yang sebagian besar terasa tak mudah, namun waktu berkata ternyata aku mampu melewatinya. Dirimu, bagaimana mungkin aku baru benar-benar mulai bisa mengenalmu saat aku sudah ada difase kehidupan ini? Waktu, aku sempat tidak bisa mencerna mengapa harus bertemu pilu dahulu baru rasa keberanian itu akhirnya datang mempertemukan fikiran kita. Belum sewindu, namun rasanya hikmah-Nya begitu nyata aku rasakan.. Walau terkadang fikiran dan rasa terusik akan pilu itu, namun telah kutemukan oase itu ditengah kehidupanku waktu itu yang bagaikan bentangan sahara.  Begitu lekat nasehatmu, begitu dalam kurasa kasih sayangmu... Aku, aku yang dulu hanya melihat kulitmu saja, namun ternyata kau menyimpan begitu banyak kebaikan dan sangat dalam kurasa akan lapang dan luasnya...

Menata Hati

Kalau dibaca kembali, banyak tulisan didalam blog ini yang akhir-akhir ini begitu memilukan hati... Rasanya terlalu jauh, ada perasaan yang entah mengapa hal itu membuat diri ini merasa jauh.. Ingin sekali rasanya memeluk hati dan diri ini kembali..  Setelah membaca arti dari surat Al-Hadid.. terbesit didalam fikiran, mungkin rasa yang sekarang aku rasakan adalah teguran dari Allah ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜” Ya rabb mohon ampuni diri ini.. ๐Ÿ˜ญ Meyakinkan diri, bahwa Allah mempertemukan ku dengan orang-orang ini pasti bukan tanpa alasan.. Banyak banget pelajaran didapatkan, dan dari sana aku ngerasa aku rindu diriku yang ceria, aku yang memiliki hati yang tenang, aku yang berusaha belajar dalam mempersiapkan masa depan, aku rindu Ana yang bagaikan padma untuk linkungannya, seorang Ana yang sudah berjanji menjaga hati kecilnya, ya Allah.. Hati ini hanya milik Engkau.. ๐Ÿ˜ญ Astagfirullahal'adziim... ๐Ÿ˜ญ
ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„َّู‡َ ุงู„َّุฐِู‰ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ู‡ُูˆَ ุงู„ْุญَู‰ُّ ุงู„ْู‚َูŠُّูˆู…ُ ูˆَุฃَุชُูˆุจُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ

Tentang Perasaan

 22 tahun kini usiaku, jika membicarakan kilas balik berbagai kejadian banyak banget yang sudah kulalui. Senang.. Sedih.. Bahagia.. Kecewa.. Senang lagi.. Sedih lagi..Banyaklah.. 20 tahun sudah.. dan 20 tahun ini masih saja bicara tentang perasaan..Jadi, benarkah kita itu bisa benar-benar bahagia? Bagaimana bisa bahagia jika air mata ini masih perlahan-lahan terus keluar diantara kelopak mata.  Kini aku berusaha untuk menarik kilas balik yang pernah aku rasakan itu. Berbagai memori perlahan hadir berdatangan membuat semakin jelas bagaimana kejadian itu berlangsung. Kejadian yang membuatku pernah begitu hancurnya dan sempat merasa ingin menyerah, juga aku hadirkan beberapa kejadian yang memberikan memori-memori terpatri indah hingga aku bersyukur diberikan kehidupan yang amat berati. Hingga akhirnya bayangan kematian itu datang. *** Aku sedang duduk sambil berbaring memainkan tuts keyboard ini. Suara surau mengumandangkan doรก selepas shalat membuat hati nurani berteriak memerin...

semuanya tentang bagaimana cara pandang lo.

Sekarang, gw heran kenapa dulu gw pernah punya pemikiran "Gw bingung ntrar gw mau jadi apa?" lah, ya terserah lu lah mau jadi apa. Karna, lo yang nentuin. Lo bebas mau kadi apa aja. Dan yang paling penting, selain pilihan lo itu keren, lo bisa hidup layak alias ada cuannya dan seneng ngejalanin prosesnya, dan kalo bisa berguna, yang terpenting berguna untuk diri sendiri dan ga ngerugiin orang lain. As simple as that. Ga perlu muluk2 asalkan jelas dan hasilnya ada. Oke, semangat. 

jika mungkin hal itu akan datang

Aku suka dengan dekorasi, gaun, dan riasan saat acara pernikahan, dulu cita-citaku ingin menjadi pemilik Wedding Organizer khusus dekorasi.. Aku suka bunga-bunganya, indah. Dan sekarang, cita-cita itu masih saja ada dan terbayang. Ternyata benar, cita-cita ga pernah mati, dia cuman pingsan sebentar lalu bangun lagi ketika kita mengingatnya. Untuk cita-cita yang ini mungkin engga sampai aku sedih, tapi entah cita-cita yang sekarang aku inginkan. Hanya cemas apa tidak apa-apa jika aku akhirnya tidak mengejarnya kembali. Tapi maaf, sepertinya hal ini perlu ku perjuangkan. Bukan untuk memuaskan ambisiku, tapi untuk aku agar lebih mengerti bagaimana rasanya menggapai cita-cita itu.