Dilubuk hati terdalam, aku amat berkeinginan untuk membuat sebuah cerita tentang seseorang yang teramat aku kasihi, aku sayangi, dan yang kini sedang aku temani disetiap waktu hidupnya... walaupun hanya sampai aku masuk ngampus nanti.
Ia, yang kini ada bersamaku.. sedang menatap anak ayam yang baru saja bekerja sama dengan ku untuk mengurung mereka kekandang kayu itu, anak ayam yang kehilangan induknya karna induknya tidak makan selama beberapa hari terakhir ini, dan yang akhirnya diputuskan untuk dipotong saja katanya, kasihan fikir ku, tapi ya sudahlah..
Oke balik lagi ke cerita yang awal,
Ah, sebenearnya aku pun tidak tau apa yang harus aku ceritakan kepada kamu agar kamu tau apa yang aku rasakan saat ini, ya.. aku ingin memberitahu sebenarnya bahwa cerita ini hanyalah sebuah isi hati aku yang mungkin sangat biasa, namun ya sudahlah, simak saja ya..
...
Saat itu aku yang sedang memandang raut wajahnya ditengah heningnya tengah hari. Ia yang sedang tidur terlelap istirahat disamping ku, melepas penat menutup matanya.. Aku tertegun, aku menyadari sepenuhnya bahwa hanya aku dan dirinya didalam rumah ini, rumah miliknya.
Aku berfikir saat itu, bahwa mengapa hanya kita? Hanya aku dan ia yang hanya berdua disini, dirumah ini.. padahal saat itu masih musim libur, bahkan anak sekolahan pun libur. Ah aku mulai ngedumel dalam hati, aku mulai kesal kepada saudara saudara ku yang sama saja libur seperti ku, "kenapa ga kesini??!"
Aku hanya bisa menerka saja, "Ah mungkin mereka sedang sibuk, sibuk dengan kesibukannya yang belum tentu benar benar sibuk." Begitu fikirku, dan lalu aku pun meluruskan kembali niat ini, niat untuk menemani kesendiriannya dirumah ini... aku ingin agar ia tidak berfikiran bahwa tiada yang mengingatnya ataupun tiada yang ingin bersama dengannya disaat ia kesepian seperti sekarang ini..
Hari demi hari kita lalu bersama, aku yang hanya bisa membantu sebisa ku, dan sekuat hati tidak ingin mengeluh walaupun kamu harus tau bahwa banyak sekali yang mungkin ketidak nyamanan menghantuiku disini. Namun dengan menatap tubuhnya, hatiku menjadi tegar tersenyum kembali, hati ku berkata kepada jiwa ku bahwa aku harus bisa bertahan, aku harus bisa setidaknya menemani disini hingga sebisaku.
jika kamu bertanya, "kenapa ga nyaman Na?" Karna.. aku menemaninya dilingkungan pedesaan yang masih adanya hal sehari hari dengan memakai alat yang masih tradisional. Namun dirumah ini aku harus cukup bersyukur karna listrik sudah ada, sumber ait tinggal switch on/off tombol tapi karna sekarang musim panas jadi air suka kering ga keluar dan itu berarti harus hemat air.
Dan ya, aku hari ini pun masih disini, dirumah ini menemaninya.. dan lagi, hanya berdua saja. Kemarin aku diajak ke kebun, diajak ngambil kerajinan tangan yang disini disebut dengan "canderon" atau samak, apa kalian tau? Yaa kalau ga tau cari aja di internet apa itu.
Mungkin segini aja dulu yang bisa aku ceritain, masih banyak sebenarnya.. tapi ya satu persatu lah ya..
Bonusnya karna kamu (kalo ada itu juga wkwk) udah mau baca sampai selesai, ini aku kasih tau siapa sebenarnya "Ia" yang dari tadi kita sebut.. ini dia :
Saat itu kami sedang duduk didipan dibelakang rumah nenek. Ya, hanya kami berdua.
Ia, yang kini ada bersamaku.. sedang menatap anak ayam yang baru saja bekerja sama dengan ku untuk mengurung mereka kekandang kayu itu, anak ayam yang kehilangan induknya karna induknya tidak makan selama beberapa hari terakhir ini, dan yang akhirnya diputuskan untuk dipotong saja katanya, kasihan fikir ku, tapi ya sudahlah..
Oke balik lagi ke cerita yang awal,
Ah, sebenearnya aku pun tidak tau apa yang harus aku ceritakan kepada kamu agar kamu tau apa yang aku rasakan saat ini, ya.. aku ingin memberitahu sebenarnya bahwa cerita ini hanyalah sebuah isi hati aku yang mungkin sangat biasa, namun ya sudahlah, simak saja ya..
...
Saat itu aku yang sedang memandang raut wajahnya ditengah heningnya tengah hari. Ia yang sedang tidur terlelap istirahat disamping ku, melepas penat menutup matanya.. Aku tertegun, aku menyadari sepenuhnya bahwa hanya aku dan dirinya didalam rumah ini, rumah miliknya.
Aku berfikir saat itu, bahwa mengapa hanya kita? Hanya aku dan ia yang hanya berdua disini, dirumah ini.. padahal saat itu masih musim libur, bahkan anak sekolahan pun libur. Ah aku mulai ngedumel dalam hati, aku mulai kesal kepada saudara saudara ku yang sama saja libur seperti ku, "kenapa ga kesini??!"
Aku hanya bisa menerka saja, "Ah mungkin mereka sedang sibuk, sibuk dengan kesibukannya yang belum tentu benar benar sibuk." Begitu fikirku, dan lalu aku pun meluruskan kembali niat ini, niat untuk menemani kesendiriannya dirumah ini... aku ingin agar ia tidak berfikiran bahwa tiada yang mengingatnya ataupun tiada yang ingin bersama dengannya disaat ia kesepian seperti sekarang ini..
Hari demi hari kita lalu bersama, aku yang hanya bisa membantu sebisa ku, dan sekuat hati tidak ingin mengeluh walaupun kamu harus tau bahwa banyak sekali yang mungkin ketidak nyamanan menghantuiku disini. Namun dengan menatap tubuhnya, hatiku menjadi tegar tersenyum kembali, hati ku berkata kepada jiwa ku bahwa aku harus bisa bertahan, aku harus bisa setidaknya menemani disini hingga sebisaku.
jika kamu bertanya, "kenapa ga nyaman Na?" Karna.. aku menemaninya dilingkungan pedesaan yang masih adanya hal sehari hari dengan memakai alat yang masih tradisional. Namun dirumah ini aku harus cukup bersyukur karna listrik sudah ada, sumber ait tinggal switch on/off tombol tapi karna sekarang musim panas jadi air suka kering ga keluar dan itu berarti harus hemat air.
Dan ya, aku hari ini pun masih disini, dirumah ini menemaninya.. dan lagi, hanya berdua saja. Kemarin aku diajak ke kebun, diajak ngambil kerajinan tangan yang disini disebut dengan "canderon" atau samak, apa kalian tau? Yaa kalau ga tau cari aja di internet apa itu.
Mungkin segini aja dulu yang bisa aku ceritain, masih banyak sebenarnya.. tapi ya satu persatu lah ya..
Bonusnya karna kamu (kalo ada itu juga wkwk) udah mau baca sampai selesai, ini aku kasih tau siapa sebenarnya "Ia" yang dari tadi kita sebut.. ini dia :
![]() |
| Nenek & Aku. |

Komentar
Posting Komentar